Categories
Berita

Fakta-fakta Pilpres AS Ikut Pengaruhi Harga Emas

Ilustrasi foto by Pradita Utama

JAKARTA – Harga emas Antam ternyata tak betah di level Rp 900.000-an, dan sudah kembali berpijak di Rp 1 juta-an per gram. Turunnya harga emas sempat terasa pada 7 Oktober, lalu 29 Oktober-2 November yang di level Rp 900.000-an.

Naiknya harga emas itu diiringi dengan proses Pemilihan Presiden (Pilpres) Amerika Serikat (AS) yang diungguli oleh Joe Biden. Business Manager Indosukses Futures Suluh Adil Wicaksono berpendapat, harga emas akan tetap tinggi hingga akhir 2020.

Adapun faktornya memang dari proses Pilpres AS yang belum usai, dan juga kondisi perekonomian Indonesia sendiri yang masih dalam teritori negatif.

“Saya melihatnya harga emas fisik masih akan tinggi sampai akhir tahun. Baru di tahun depan kalau benar vaksin sudah di-deliver kita akan lihat lagi rupiah dan harga emas spot bagaimana,” ungkap Suluh kepada detikcom, Jumat (6/11/2020).

Baca juga: Emas Bisa Menjadi Komoditas yang Paling Melejit Selepas Pilpres AS

Berbeda dengan Suluh, Direktur TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi, meyakini harga emas di Indonesia bisa kembali di bawah Rp 900.000/gram. Pasalnya, kalau Biden menang, Partai Republik masih akan mendominasi pemerintahan lewat Senat dan Kongres. Jika Biden mau menggelontorkan stimulus lebih besar yang bisa membuat harga emas semakin melambung, Partai Republik punya kemungkinan besar menghalanginya.

“Nah dari awal kita tahu bahwa kemungkinan besar Joe Biden memenangkan Pilpres, kemudian bisa menggelontorkan stimulus sebesar US$ 2,2 triliun. Tetapi dengan adanya oposisi yang cukup mayoritas, kemungkinan besar akan berat sekali. Ini yang akan menahan laju penguatan logam mulia di level Rp 1.040.000/gram,” imbuh dia.

Ibrahim menuturkan, harga tertinggi emas tak akan tercapai dalam waktu dekat. Apalagi, melihat data historis di mana harga emas tertinggi terakhir di tahun 2011 yakni US$ 1.897,91 per troy ounce (toz).

“Level tertinggi harga emas di 2020 hanya di bulan Agustus yakni US$ 2.090/toz atau Rp 1.040.000/gram. Untuk mencapai lagi kita menunggu 5-9 tahun ke depan, sehingga walaupun mengalami kenaikan tidak akan bisa mencapai, pencapaian sukses emas di bulan Agustus,” imbuh Ibrahim.

Harga Emas 2021

Menurut Suluh, harga emas batangan di Indonesia Rp 1 juta/gram bisa menjadi harga ideal. Jikalau turun, ia meyakini hanya sampai level Rp 900.000-an.

“Apakah ini sudah resistance atau level psikologis Rp 1 juta/gram? Ya tentunya kalau level psikologis kayak titik balik. Kalau ke atas naik, kalau tembus ke bawah turun lagi. Tapi kalau saya bilang bisa jadi Rp 1 juta/gram seperti level ideal baru untuk pecahan satu gram. Makanya orang sekarang kecenderungannya tetap berburu. Artinya meski harga emas tetap Rp 1 juta per gram orang tetap ada permintaan,” paparnya.

Ia pun tak yakin jika harga emas batangan bisa kembali ke level Rp 800.000/gram.

“Saya pesimis kalau di bawah Rp 900.000/gram. Jadi kalau di bawah Rp 1 juta/gram. Kemarin saja Rp 1 juta/gram pas, sempat di bawah itu tapi sebentar,” ujarnya.

Bahkan, menurutnya harga emas di tahun 2021 akan sulit tembus di bawah Rp 900.000-an. Bahkan, jika rupiah terus menguat, dan harga emas di pasar spot turun, tetap sulit mencapai level Rp 800.000/gram.

“Kalau rupiah Rp 14.000, harga emas spot US$ 1.900/toz itu pun tidak cukup membuat harga emas fisik di bawah Rp 900.000/gram. Karena 1 toz itu kan 31,1 gram, ketemu dong harga dolar per gramnya, dan dikalikan rupiah tetap di atas Rp 900.000/gram. Apalagi Antam dalam menetapkan harga tak hanya persilangan harga spot dikalikan rupiah, tapi kan ada nilai cetak, sertifikasi, dan sebagainya,” imbuh dia.

Sementara itu, Ibrahim berpendapat harga emas akan perlahan turun di 2021 seiringan dengan kondisi perekonomian yang membaik. Mulai dari tensi perdagangan yang bisa berkurang karena kebijakan pemerintahan Joe Biden yang punya peluang besar untuk menang, dan juga vaksinasi virus Corona (COVID-19).

Jika itu terjadi, maka investor akan mulai meninggalkan emas dan kembali ke saham. Secara perlahan, harga emas akan turun.

“Pada saat vaksin dijalankan, masyarakat akan bekerja berdampingan dengan COVID-19. Dengan berdampingan, kemudian menjaga jarak, memakai masker dengan sendiri perekonomian akan kembali tumbuh. Dan yang terjadi masyarakat akan mengembalikan invest-nya dari safe haven ke saham dan obligasi, sehingga harga saham akan kembali terbang. Nah ini tinggal tunggu waktu,” papar dia.

Baca juga: Waspada! Harga Emas Diramal Anjlok saat Vaksin Diproduksi Massal

Ia bahkan meyakini, harga emas bisa turun di level US$ 1.700-1.830/toz di tahun 2021-2022. Dengan kata lain, di Indonesia bisa turun hingga Rp 850.000-900.000/gram.

“Kemungkinan besar itu rata-rata nantinya logam mulia itu akan Rp 850.000/gram. Itu yang paling rendah, kemungkinan besar di 2021 itu terjadi. Ya karena ada kemungkinan bahwa logam mulai itu akan di US$ 1.700-an/toz. Itu bukan di tahun 2020, bisa saja di 2021 atau 2022,” ujar Ibrahim.

Oleh sebab itu, ia menyarankan bagi masyarakat yang ingin berinvestasi emas, maka tunggulah harga di pasar spot turun level US$ 1.830/toz.

Sumber: detikFinance

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *