Categories
Berita Opini

Harga Emas Turun, Tertekan Penguatan Dolar dan Yield Obligasi

BAGIKAN:
Emas akhirnya turun setelah reli selama tujuh hari

Jakarta – Harga emas tergelincir sedikit pada akhir perdagangan Selasa (16/11) pagi WIB. Emas tertekan oleh dolar AS dan imbal hasil obligasi AS yang menguat dan memicu aksi ambil untung setelah mencetak kenaikan tujuh hari berturut-turut dan meningkat sekitar 2,8 persen pekan lalu, kenaikan mingguan terbesar dalam enam bulan.

Kontrak harga emas paling aktif untuk pengiriman Desember di divisi Comex New York Exchange, merosot $1,9 atau 0,1% menjadi $1.866,60 per troy ounce. Sebaliknya di pasar spot harga emas terangkat 0,1% ke $1.866,03.

“Ada beberapa aksi ambil untung secara rutin oleh pedagang berjangka jangka pendek tetapi tren kenaikan emas masih ada,” kata Jim Wyckoff, analis senior Kitco Metals.

Baca Juga: Emas Catat Rekor Tertinggi Sejak Awal September 2021

Harga emas telah naik sekitar $100 selama tujuh sesi terakhir, kenaikan beruntun terpanjang sejak Mei, karena daya tariknya sebagai lindung nilai inflasi telah didorong oleh lonjakan harga-harga konsumen AS dan ketika bank-bank sentral utama mempertahankan sikap dovish mereka terhadap suku bunga.

Harga emas tertekan karena imbal hasil obligasi pemerintah AS 10-tahun yang jadi acuan naik mendekati level tertinggi tiga minggu, sementara indeks dolar yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama saingannya naik 0,3 persen ke level tertinggi 16-bulan.

Emas juga berada di bawah tekanan tambahan ketika indeks kondisi bisnis manufaktur Empire State Fed New York naik 11,1 poin menjadi 30,9 pada November.

Analis Saxo Bank, Ole Hansen memperingatkan, “Jika harga emas gagal menembus di atas $1.870 hari ini, maka ada risiko yang dapat mendorongnya kembali ke area $1.830 – $1.835, karena hal itu dapat mengecewakan beberapa investor.”

Presiden Minneapolis Federal Reserve (Fed) Bank mengatakan pada Minggu (14/11/2021) bahwa dia memperkirakan inflasi yang lebih tinggi dalam beberapa bulan ke depan tetapi mengatakan bank sentral AS tidak boleh bereaksi berlebihan terhadap inflasi yang meningkat karena kemungkinan bersifat sementara.

“Normalisasi kebijakan Federal Reserve, suku bunga yang lebih tinggi, penguatan dolar AS, dan tekanan inflasi kemungkinan memudar pada 2022 akan berdampak harga emas yang lebih lemah,” kata analis UBS dalam sebuah catatan.

Sumber: Antara

BAGIKAN:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *